Paving block

Paving block mulai dikenal dan dipakai di Indonesia sejak tahun
1977/1978. Paving block sendiri mempunyai variasi bentuk untuk
memenuhi selera pemakai. Penggunaan paving block ini disesuaikan dengan tingkat
kebutuhan, misalnya saja digunakan sebagai tempat parkir, terminal, jalan
setapak dan juga perkerasan jalan di kompleks-kompleks perumahan serta untuk
keperluan lainnya. Paving block merupakan produk bahan bangunan dari semen
yang digunakan sebagai salah satu alternatif penutup atau pengerasan permukaan
tanah. Paving block dikenal juga dengan sebutan bata beton (concrete block) atau
cone block.


Berdasarkan SNI 03-0691-1996 paving block (bata beton) merupakan
komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan
perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan lain yang
tidak mengurangi mutu bata beton.
Sebagai bahan penutup dan pengerasan permukaan tanah, paving block
sangat luas penggunaannya untuk berbagai keperluan, mulai dari keperluan yang
sederhana sampai penggunaan yang memerlukan spesifikasi khusus. Paving block
dapat digunakan untuk pengerasan dan memperindah trotoar jalan di kota-kota,
pengerasan jalan di komplek perumahan atau kawasan pemukiman, memperindah
taman, pekarangan dan halaman rumah, pengerasan areal parkir, areal
perkantoran, pabrik, taman dan halaman sekolah, serta di kawasan hotel dan
restoran.


Paving block dengan kualitas baik adalah paving block yang mempunyai
nilai kuat desak tinggi (satuan MPa), serta nilai absorbsi (proporsi serapan udara)
yang rendah (%). Sehubungan dengan standar kualitas tersebut, tipe
kualitas yang diteliti adalah lebih baik untuk kuat desak, dan lebih kecil
lebih baik untuk proporsi serapan udara. Semakin tinggi nilai kuat desaknya maka
paving block semakin bagus.

Sedangkan untuk proporsi serapan udara (absorbsi), semakin
rendah nilai absorbsinya, produk paving block semakin kuat.
Berdasarkan SNI 03 - 0691 - 1996, paving block dengan mutu terendah
(mutu D) paling tidak memiliki kuat desak 8,5 Mpa dan
proporsi serapan udara rata - rata maksimum 10%.